Merancang, Mendesain dan Mengelola Rumah Tinggal yang Nyaman

.

.

Breaking



Konsep ‘Bangunan Tahan Gempa




Sejak tsunami melanda Aceh tahun 2004 dan Yogyakarta dilanda gempa tahun 2006, banyak bangunan2 yang rusak, bahkan ambruk, tidak terkecuali bangunan2 beton modern disana. Jangankan di Aceh atau Yogya, bangunan2 modern di Amerika atau Jepang, yang super2 modern, ternyata tidak mampu melawan kekuatan alam. Ya, bangunan2 modern yang terbuat dari beton yang sudah didesain dengan teramat kuat, tetap tidak bisa melawan alam, karena beton adalah buatan manusia, walau tetap sebagian merupakan buatan alam ….. Tetapi, ternyata sebagian besar rumah2 sederhana tradisional yang berbahan kayu, justru masih tetap berdiri kokoh …. Menurut aku, Tuhan memang menciptakan alam yang luar biasa untuk dikelola oleh manusia ….. tetapi manusia sangat serakah, sehingga semua material alam yang seharusnya untuk ‘melawan’ alam, malah dirusak untuk ( katanya ) kesejahteraan manusia sendiri …..


 

Rumah panggung dari kayu tradisional seperti ini malah lebih solid untuk ‘melawan’ gempa. Tiang kolomnya mempunyai pondasi umpak masing2, sehingga lebih fleksibel.

Di Jepang, yang merupakan negara ’surga gunung api’, bahan dasar rumah mereka terbuat dari kayu dan kertas, ditambah dengan pintu yang digeser ke samping, merupakan ‘teknologi’ sebuah rumah tahan gempa. Dan konsep sambunag2 kayu, merupakan konsep ‘jadul’ tetapi justru tetap harus dipelajari bagi ahli2 struktur jaman sekarang ini.
Sementara di Indonesia, rumah tahan gempa tergolong konsep yang memiliki fleksibilitas tinggi, mudah membangunnya dan cukup kokoh, disebut konsep ‘revolusioner’, yaitu konsep knock-down / bongkar-pasang yang sederahana, tetapi cukup praktis. Rumah tahan gempa ini tidak didirikan diatas pondasi, tetapi dengan menggunakan ‘umpak’ di setap kolom rumahnya. ‘Umpak’ adalah  pondasi yang hanya memakai batu kali atau batu bata, atau ‘buis beton yang diisi dengan batu, sehingga jika terjadi gempa, reatif lebih fleksibel, karena jika memakai material rumah2 konvensional, pondasi serta beton ( jika tidak dihitung beban gempa oleh ahli struktur gempa ) akan mengalami keretakkan. Jika rumah tersebut diatas tanah yang jelek, sebenarnya tetap bisa memakai umpak, tetapi tetap harus perbaikan tanah dahulu. Jika memang harus memakaai tiang pancang, misalnya di tanah yang bekas rawa, harus membuat ‘test beton vertical dan horisontal’ untuk tahu bagaimana kekuatannya terhadap beban dan gempa.



Pondasi umpak, yaitu pondasi setempat, untuk fleksibilitas, sebagai bangunan tahan gempa. Pun jika terpaksa membuat pondasi lajur, tidak bermasalah, seperti gambar di bawah ini.

Sebenarnya, semua bangunan pendek ( maksimal 2 lantai, sekitar 10 meter ),  gudang, hangar atau ruko termasuk rumah mewah ( tetapi lebih ke arah rumah sederhana ), bisa memakai material kayu yang relatif tahan gempa, yaitu upaya untuk membuat seluruh elemen banguan menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak ‘terlepas’ jika terjadi gempa. Begitu juga tentang sambungan2nya, merupakan sambungan2 yang terencana yang dihitung dan dibuat oleh ahli konstruksi kayu, bukan sambungan2 kayu konvensional seperti yang kita tahu selama ini.

Struktur bangunan kayu, dari kolom sampai rangka atap. Pengisinya ( dinding ), bisa dengan kayu, batu  bata, ‘gedeg’ atau bamboo. Serta penutup atapnya, bisa dengan seng atau ‘decrabond’. 

Tetapi, memang karena negara Indonesia termasuk negara gempa karena Indonesia adalah ‘pertemuan sabuk pegunungan Timur dan Barat’ sehingga banyak sekali gunung api di negara kita. Sehingga konsep desain rumah tahan gempa HARUS memakai material setempat, budaya masyarakat serta aspek biaya dan kemudahan pelaksanaan.
Dindingnya juga merupakan perpaduan kayu, batu bata dan bisa juga dengan bamboo ( gedek ) bagi masyarakat Jawa. Setiap bukaan, seperti pintu dan jendela harus dipasang balok, yang menyatukan kusen kayu bagian atas. Ukuran balok atau kayu, standard saja, memakai 2 x 5/10 ( kayu kaso, bukan reng ), dimaksudkan masyarakat bisa memakainya karena strandard.
Bagaimana dengan atap? Kita harus membuat kuda2 sebagai satu kesatuan antara kolom dengan rangka kuda2nya, misalnya 1 batang diagonal kuda2 dipanjangkan sampai kekolom, langsung sebagai tiang yang berdiri di umpak. Konstruksi atapnya tetap menggunakan kayu ( kaso 5/10 cm dan reng ¾ cm ) dan atapnya menggunakan seng atau material modern yang lebih baik, yaitu ‘Decrabond’ ( seperti seng gelombang dengan ukuran yang sama, tetapi bermaterial tidak berisik jika hujan serta berwarna seperti genteng, terracotta atau warna2 yang lebih modern ).  Lalu seperti biasa, hubungan antara kuda2 yang atu dengan yang lain, menggunakan batang pengaku bersilang, seperti segi tiga. Jangan lupa, hubungan antara kayu dimanapun, jangan ada di tengah2 sambungan, melainkan ¼ atau ¾ nya dari titik pertama.

Gambar diatas adalah gambar bangunan rumah konvensional, aku hanya ingin memperlihatkan tentang gambar kuda2 saja, dengan diatasnya rangka atap : gording 8/12, kaso 5/10 dan rend ¾.

Jika ingin memakai plafond, jangan memakai gypsum, karena gypsum akan bisa retak. Lebih baik memakai tripleks. Oya, sebaiknya jangan memakai genteng, karena jika ada gempa, genteng2 dapat berjatuhan dan akan menimpa yang ada di rumah tersebut.

 Material seng versus ‘decrabond’.

Bambu juga bisa ‘melawan’ gempa. Tetapi karena kita susah mencari bamboo yang panjang, serta karena penyambungannya lebih sulit disbanding penyambungan kayu, maka bampu lebih mahal disbanding kayu, walau konsep rumah bamboo mulai dipopulerka sebagai ‘rumah tahan gempa’, dengan menanam bamboo kuning yang besar dan panjang. Bambu lebih ringan, ‘kosong’ dan solid sebagai material bangunan, terutama untuk rumah.
Jelas sekali, konsep alam untuk kita adalah saling ‘bersahabat’. Gempa atau tsunami atau apapun yang bersifat ‘force majeour’, yang sebenarnya memang kita tidak bisa melakukan apa2, jika kita tetap bersahabat dengan alam,